Blog | Bantuan | Ikuti Kami
Hubungi: 021 - 8779 6010
Buku Erlangga

Ham Dalam Soliloqui Pertarungan Peradaban

Dilihat: 92
Rp.107.000 Rp.85.600 20% OFF

Kode: 0073400110

Pengarang: Nikolas Simanjuntak

Penerbit: Buku Erlangga

Kategori: Perguruan Tinggi

Kuantitas
Stok
Tersedia
100% Produk Original
Official Store Jaminan transaksi aman

Buku Erlangga

Aktif

8346
Produk

3.3
Penilaian

Deskripsi

HAM (hak-hak asasi manusia) itu sangat mendasar, fundamental, paling pertama ada, dan karena itu disebut asasi. Hak itu harus disebut terlebih dahulu, karena sesudah itu akan ada juga hak lain-lain dalam arti hukum. Tetapi sesungguhnya, yang pertama-tama dimaksudkan ini adalah hak paling dasar dimiliki dan tak terpisahkan (unalienable) dari manusia itu. Karena dia ada sebagai Manusia. Hak itu sudah ada dan terjadi ketika hukum masih belum ada atau tidak menentukannya sebagai hak hukum. Dengan itu mau dikatakan juga, hak dasar sudah dimiliki atau diperoleh si Manusia, walau hukum negara tidak/belum bertindak menetapkannya ke dalam bentuk hukum tertulis dan/atau yang tidak tertulis. Bahkan lebih ekstrim bisa juga dikatakan, (andainya) negara tidak/belum ada, hak asasi itu selalu dan tetap ada dengan segala akibat ikutannya. Maka, HAM juga sebagai hak yang tidak diberikan dan karenanya tidak pernah boleh diambil, dikurangi, atau ditiadakan oleh negara (nonderogable).

Ketika pandangan kita diarahkan ke bidang yang sangat luas dan mendalam multi-dimensi seperti di atas, maka hampir pasti, HAM menjadi bermakna sebagai topik yang sangat mendasar. Juga di dalam ruang hidup privat dan terutama untuk mengurus kepentingan banyak orang (publik). Pada konteks situasi itu, segala wacana HAM tampak jadi sangat fokus berada dalam laju gerak perjalanannya di sekitar politik hingga jadi “yang politik” sebagai urusan kegiatan bagi dan oleh banyak orang, dengan pemahaman yang historis filosofis, teoritis, konsepsional, dan praktis berikut tali-temali interkoneksi dan interaksi yang berlangsung saling bersamaan. Di situ, ada kontestasi adu tarung antar tali-temali, inter-koneksi, dan inter-aksi satu sama lain. Itu seakan terasa sunyi dan tak kelihatan, selain di atas kertas. Padahal itu sungguh nyata ada, historis, menyejarah sepanjang ribuan tahun sejak 600an SM ke tahun 1215, menuju ke tahun 1948, hingga kini. Hari ini dan di sini (hic et nunc).

Pilihan kata soliloqui bisa disebut, juga dari hasil kristalisasi inspirasi reflektif buku Pramoediya Ananta Toer, Bumi Manusia,  yang dia kerjakan selama bertahun-tahun dalam pengasingan lama di pulau Buru, yang sepi dari keramaian ibukota, sunyi dari wacana di masa itu. Padahal, buku itu disusun dalam segala macam adu tarung. Sungguh, pertarungan pergolakan batin, pertarungan antar keyakinan yang politis, adu tarung antar hukum dengan atau tanpa pengadilan, pertarungan antar seniman dengan politisi penguasa, adu tarung antar pejabat berwenang dengan warga yang tertindas. Itu juga persis adu tarung penerapan HAM ataukah politik kekuasaan nir-demokratis. Pada intinya, HAM dan politik di masa itu telah jadi pertarungan peradaban yang tercatat hingga kini. Itu pun terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seantero kawasan dunia.

Review

Komentar

Author: Nikolas Simanjuntak Kategori: Perguruan Tinggi

Dari Author

Terkait